>>[FF EXO] I’m Sorry<<

Standar

 

Cast :

>>Shin Rinrin

>>Shin Aegy

>>Wu Yi Fan (Kris)

>>Kim Joon Myun

Genre : Friendship

Length : OneShot

Disclaimer : EXO member is mine *DOR*

Author : Ririn Cross (@RirinCross)

Warning : Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan kejadian dalam FF ini memang kesengajaan dari author! *DUAK*Typo dimana-mana~~ jadi berhati2lah u.u

 

Happy Reading~

 

~XXX~

Pagi cerah ini terlihat berbeda dari biasanya. Shin Rinrin masih terlelap dalam dunianya. Ia tak mempedulikan bunyi alarm yang memekakkan telinga. Ia hanya melirik sekali dan mematikan alarm itu.

Ia melirik sejenak pada Aegy yang belum terbangun.

“Aegy… Sudah jam 5…” desisnya sambil mengguncang-guncangkan pelan tubuh gadis di sampingnya yang masih nyenyak tertidur. Bahkan suara alarm itupun tak membuat Aegy bergeming.

“Bangun.. Kau bilang harus bangun pagi kan..” Rinrin lagi-lagi mengguncangkan tubuh Aegy. Tapi nihil. Rasa kantuk membuat kesadaran Rinrin hilang. Gadis itu mulai tertidur lagi. Ia mulai menggeliat lagi dan meraih benda terdekatnya untuk dipeluk. Sosok itu tak lain Shin Aegy, sepupunya sendiri.

Beberapa lama kemudian…

Sebuah ringtone terdengar..

Jebal saranghae saranghae saranghae..

Getarannya pun membuat Aegy terkesiap.  Shin Aegy membuka matanya perlahan. Ia angkat telepon setengah sadar.

“Kau sudah bangun Ae-chan?”

“Ne.. Waeyo?”

“Aku hanya ingin memastikannya saja.” Aegy hanya mengangguk. “Oke. Nanti kutelepon lagi.”

“Iya Myunnie…” Dengan malas gadis itu menjawab. Aegy meletakkan ponselnya di dekat bantal. Matanya mencoba membiasakan dengan keadaan. Ternyata pagi telah menjelang.

Gadis itu hendak memiringkan tubuhnya. Namun Aegy merasa tidak bebas. Ada apa gerangan? Tangan siapa yang merangkulnya? Gadis itu langsung melihat sosok yang nyenyak tidur di sampingnya. Mendapati tangan Rinrin merangkul erat dirinya seperti guling membuat Aegy terdiam.

Tak lama kemudian Aegy tersenyum. Shin Rin Rin ternyata. Sepupunya itu akhir-akhir ini memang sering tidur tidak pada waktu yang tepat. Bukan akhir-akhir ini, tapi selama liburan ini. Insomnia yang menyerang Rinrin begitu parah. Dapat Aegy pastikan, tadi malam pasti sepupunya itu tidur lebih dari jam 1.

“Kau sudah bangun?” Tibat-tiba suara itu menyapanya. Rinrin kini menatap Aegy masih dengan mata sedikit terpejam. Tapi ia bicara? Entahlah, Rinrin kadang bisa terbangun walau memang ia tak ingin bangun.

“Ne…” desis Aegy. Ia kemudian melirik jam. “Aigooo!!” Aegy langsung melompati tempat tidur. Ia bisa terlambat. Jam sudah menunjukkan pukul 6. Buruk sekali. Gadis itu segera menyambar handuk dan mandi kilat. Sedangkan Rinrin kembali tertidur. Bahkan sangat diragukan, tadi itu ia benar-benar sadar atau tidak.

~XXX~

Sebuah sentuhan halus membuat Rinrin membuka matanya. Perlahan tapi pasti, ia mulai mengenali siapa sosok yang kini sedang menatapnya dengan lembut?

“Kris jelek?” desisnya tak yakin. Apakah ini mimpi?

Namja yang ketahuan itu segera menyingkirkan tangannya dan mendaratkan sebuah jitakan pada kepala gadis itu.

PLETAK

“Ya!! Apa yang kau lakukan!?” Rinrin langsung terbangun. Ia mengelus pelan kepalanya yang masih nyut-nyutan karena jitakan dari ‘Pangeran Es’-nya itu.

“Kau pikir ini sudah jam berapa?” Suara dingin Kris membuat gadis itu semakin mengerucutkan bibirnya. Rinrin menatap jam weker yang ada di ruangan itu.

“Baru juga jam setengah 8..”

“Tidak bisakah kau bangun lebih pagi Putri Tidur?” Kris mengacak rambutnya frustasi. Kekasihnya benar-benar keterlaluan.

“Tergantung moodku, kalau aku ingin bangun pagi aku akan bangun, kalau tidak ya tidak..” jawab Rinrin cuek. Dan ia, kembali masuk ke dalam selimut.

“Aish…” Kris semakin mengacak rambutnya. Bagaimana bisa ia mendapat yeoja pemalas seperti ini.

Namun Rinrin segera menatap ranjang di sampingnya. Aegy sudah tidak ada. Apakah dia sudah berangkat?

“Aegy, kau melihatnya?” Rinrin tidak jadi tidur lagi. Ia terbangun dan menatap sekeliling. Sosok sepupunya itu sudah tak ada. Apakah ia sudah berangkat?

“Dia tidak ada..” desis Kris. Ia merasa diabaikan. Mengapa justru Rinrin lebih mementingkan sepupunya itu daripada dirinya?  Namja itu lalu bangkit dan ia berjalan keluar pintu. “Sarapan ada di meja.. Aku pergi..”

Rinrin langsung terbelalak. Astaga. Ia baru sadar Kris yang hadir di dekatnya benar-benar nyata, tapi mengapa ia bersikap seperti ini. Pemuda itu kini telah menghilang di balik pintu. Rinrin segera turun ranjang dengan cepat, ia tak peduli kondisinya berantakan. Dengan tergesa ia membuka pintu. Gadis itu mengamati sekeliling. Terlihat Kris sedang berusaha mengganti sandal yang ia pakai dengan sepatu bepergiannya. Rinrin cepat-cepat menyusul namjanya itu.

“Mau menemaniku sarapan?”

~XXX~

 

Suho terlihat khawatir. Sejak tadi Aegy tak menjawab teleponnya. Apakah ada masalah di kantornya? Mengapa gadis itu tak mengangkat panggilannya?

Saat tadi pagi Suho menelepon ia tak bisa berbicara banyak karena tiba-tiba manajer datang memberitahukan jadwal. Hari ini mereka free. Termasuk EXO-M. Untuk itulah beberapa dari member seperti Luhan dan Xiumin memilih main soccer, Kai latihan dance, Baekhyun dan Chan Yeol keluar untuk jogging, D.O sedang sibuk di dapur, Chen dan Tao malah sedang asyik nonton TV, Lay masih belum kembali dari urusannya, Sehun sibuk main games, Kris sendiri pergi entah kemana. Suho sendiri, duduk melamun mengamati kegiatan member EXO yang masih dapat ia amati. Ia merasa bosan.

Suho mencoba menghubungi kekasihnya lagi. Tetapi sama seperti tadi. Tidak diangkat.  Aegy semalam bahkan tak membalas pesannya. Apakah pekerjaannya begitu padat? Tentu saja, seharian gadis itu harus bekerja. Bahkan sepertinya gadis itu lebih sibuk daripada dirinya? Ah.. Suho benar-benar cemas dengan keadaan Aegy.

“Apakah aku menyusul ke tempat kerjanya saja?”

Setelah berpikir agak lama, Suho akhirnya bangkit. Ia menuju ke kamarnya. Meraih blazer dan sebuah topi serta masker. Sepertinya keputusannya untuk menyusul Aegy ke tempat kerja sudah bulat.

~XXX~

“Sup ini kau yang membuatnya?”

Kris hanya mengangguk. Rinrin tersenyum. Meski di luar kelihatan begitu dingin, tetapi Kris adalah pria yang hangat. “Kau juga makan Pangeran Es.. Jangan hanya menatapku..” Rinrin langsung menyuapkan sepotong kecil daging ayam dari sup yang ia makan.

Kris yang mendapat serangan mendadak itu tak punya pilihan lain selain memakan itu. “Kau pasti belum sarapan juga…” Rinrin kini menyendok nasi. Lalu, ia mengangsurkan pada Kris. “Buka mulutmu.. Aaa..”

Kris dengan terpaksa membuka mulutnya lagi. Ia lalu mengunyah makanan itu tanpa ekspresim bicara pun tidak. Rinrin tersenyum sambil menghisap ujung sumpitnya. Kris anak baik, dia tidak memberontak sama sekali.

“Kau mau lagi?” Sedikit antusias Rinrin menawari kekasihnya itu.

Kris langsung menatap Rinrin. “Aku bisa makan sendiri…” Rinrin cemberut. Ia menikmati kesenangannya menyuapi Kris. Tapi mengapa pemuda itu menolak?

“Aish.. Bukankah kau orangnya susah makan. Seperti…”

DEG

Rinrin jadi ingat. Aegy, sepupunya itu tadi pagi berangkat buru-buru. Sudah sarapan entah belum. Apalagi Aegy tipe yang susah untuk makan. Bisa gawat jika anak itu tidak makan hari ini. Ia butuh banyak energi untuk kerjanya yang seharian itu. Rinrin jadi sedikit… cemas.

Kris menatap ekspresi lain dari kekasihnya itu. “Kenapa?” tanyanya singkat.

Rinrin terkesiap. Ia melihat Kris mengerutkan alisnya, mirip benar dengan Angry Bird. *DOR*

“Aniyo.. Aku hanya khawatir. Aegy sudah makan belum, tadi pagi ia berangkat buru-buru…” Rinrin menjelaskan.

Kris langsung mengubah ekspresinya. “Telepon saja dia..”

“Ide bagus~”

Rinrin langsung menyambar ponselnya. Sayang, saat ia mengecheck pulsa ternyata limit. Gadis itu hanya bisa mengirim pesan singkat, berharap segera dibalas. Sedangkan dari ruang makan, Kris terus mengekori Rinrin dengan tatapan matanya.

~XXX~

 

Seorang pemuda dengan topi, masker, dan blazer berdiri di depan sebuah kantor. Tidak terlalu besar, namun tidak bisa dibilang kecil.

Pemuda itu masih berdiri di seberang jalan. Ia mencari sosok yang ia rindukan. Saat ini jam telah menunjukkan hampir pukul 8 pagi. Harusnya semua pegawai sudah ada di kantornya. Terlihat dari beberapa pekerja yang mulai berdatangan. Hari ini akan jadi hari yang sibuk bagi mereka, sepertinya.

Mata pemuda itu langsung membulat saat melihat sosok yang ia cari turun dari bis kota. Secepat kilat ia menyebarang jalan. Ia tak peduli pada lampu yang mulai menghijau. Hampir pemuda itu terserempet, namun ternyata ia lebih gesit. Pengemudi kendaraan yang hampir mengenainya hanya bisa marah-marah, namun tidak digubrisnya.

Pemuda itu mengikut gadis yang menjadi incarannya. Dengan sekali tarikan ia mendapatkan gadis itu. Gadis itu terkejut dan hampir berteriak. Tentu saja, ini penculikan. Namun, pemuda itu langsung membungkam mulut gadis itu. Cepat pemuda itu membawa gadis itu ke tempat sepi.

“Hhmmpph!” Gadis itu memberontak dalam bungkaman. Ia mencoba melepaskan diri. Namun, tendangannya tak berhasil. Ia hanya mengenai udara kosong. Akhirnya ia tak punya pilihan lain, setelah pegangan laki-laki itu mengendur ia mencoba memanfaatkan kesempatan.

KRAUK

“APPO!!” Ia gigit pemuda itu yang langsung menjerit kesakitan. Pemuda itu mengibas-kibaskan tangannya. Sedangkan mata gadis itu membulat, suara itu tidak asing.

“Ramyun pabo?”

Pemuda itu masih mengibas-kibaskan tangannya yang nyeri akibat gigitan kekasihnya. “Shin Aegy… Mengapa kau begitu ganas..” Lelaki itu yang ternyata Suho mulai menurunkan topinya. Ekspresi kesakitan masih melekat di wajah putih nan tampan miliknya.

“Aigoo.. Aku tidak tahu itu kau.. Sakit?” Aegy langsung menghampiri pemuda itu dengan khawatir. Tadi ia memang melakukan gigitan sekuat-kuatnya.

“Sakit sekali..” Suho memelas.

Aegy semakin merasa bersalah. “Kau sih berdandan seperti itu, tiba-tiba menarikku. Siapa yang tidak takut coba?!”

“Ish.. Aku melakukannya agar tidak ada yang tahu!”

“Tapi kau seperti penguntit!”

“Ya! Apa kau bilang? Untuk apa orang setampan aku menjadi penguntit!?” Suho terlihat shock. Apakah ia memang benar-benar terlihat seperti penguntit dengan penyamaran seperti ini?

“Eung.. Sedikit mirip…” Aegy menggaruk-garuk kepalanya. Padahal kalau harus jujur bukan sedikit, tapi memang sangat mirip penguntit.

“Harus kau tahu Shin Aegy. Aku melakukan ini karena aku mencemaskanmu!”

Mereka kemudian terdiam.

~XXX~

Rinrin sudah menyelesaikan sarapan. Ia mulai membereskan peralatan makan dan merapikan. Kris tidak tinggal diam, ia langsung mencucinya tanpa gadis itu perintah. Rinrin sedikit tertegun saat melihat Kris itu begitu rajin.

“Apakah dia memang sering melakukan ini?” Rinrin bertanya sambil mengamati punggung tinggi Kris yang sedang sibuk di keran wastafel. Kris melakukannya dengan cepat dan segera selesai.

“Sampai kapan kau akan menatapku seperti itu?” Buyar lamunan Rinrin karena suara bass Kris. Tanpa Rinrin ketahui, Kris telah mengubah posisinya dan berjalan mendekati gadis itu.

“Ng.. Kau bagaimana bisa bergerak secepat itu?” Rinrin blank. Apakah karena terlalu terpesona oleh ulah Kris, ia bahkan tak tahu kalau pemuda itu sudah berganti posisi, dan sekarang pemuda itu malah memojokkannya?! Astaga.

Namja itu mengernyit. Ia kemudian mengetuk-ngetukkan jarinya lembut pada kening Rinrin. “Karena kau tidak fokus, Putri Tidur…” Pemuda itu memiringkan kepalanya. “Sebaiknya, kau temani aku tidur sekarang…” Kris menyeringai singkat. Seringai jahat tetapi sangat indah di wajahnya yang tampan.

“Mwo?!”

~XXX~

Aegy membuka ponselnya. Ia tak menyangka. Akan ada banyak panggilan seperti ini. “Kau begitu mencemaskanku sampai meneleponku hingga 27 kali Ramyun Pabo?”

“Uhuk…” Suho seketika tersedak bubur yang ia nikmati. Cepat-cepat Aegy memberinya minum.

“Pelan-pelan…”

“Gomawo…” bisik Suho setelah ia meminum seteguk air milik Aegy. ia begitu terkejut, bahkan ia tak mengira akan melakukan 27 panggilan itu, yang ia tahu selama Aegy belum mengangkatnya ia takkan menyerah. “Sudah kubilang aku mencemaskanmu!”

“Ah mianhae oppa. Tadi ponselku diam. Bahkan aku tak tahu kalau Ri-ah juga sms…” Aegy langsung memamerkan sms dari sepupunya itu. “Lebih baik kutelepon…”

“Tunggu!” Suho menghentikan Aegy. Gadis itu mengerutkan alisnya.

“Wae?”

“Mengapa kau harus meneleponnya padahal dia hanya sms sekali padamu?! Mengapa kau tidak meneleponku yang bahkan sudah melakukan 27 panggilan untukmu!?”

Aegy speechless. Mengapa Suho jadi begitu kekanakkan? Apakah efek liburan membuat kekasihnya itu menderita gangguan psikologis?

“Kau bercanda.. Kau berada di depan mataku mengapa aku harus meneleponmu?!” Aegy mendecak. Suho menunduk, sadar akan kebodohannya.

Tak berapa lama kemudian Aegy sedang sibuk melakukan panggilan.

“Yeobosoyeo… Aegy?” Suara itu terdengar.

Aegy sedikit menghela nafas lega. “Aku sudah makan Ri-ah..”

“Pake apa?”

“Bubur ayam…”

“Uhm.. Syukurlah. Sepertinya kau suka itu..”

“Iya, aku sedang bersama Ramyun Pabo…”

“Ada Myunpa juga? Baguslah…”

“Kau sedang apa?”

“Tidur dengan Kris jelek..”

DOR

Mata Aegy membulat. “Mwoya?! Bisa kau ulangi sekali lagi?!”

“Kau aneh… Makanlah yang banyak.. Lalu kerja yang rajin, Good luck untuk hari ini..”  Rinrin segera memutus sambungannya, membuat Aegy terpaku sejenak. Ia perlu mencerna kata-kata dari sepupunya tadi.

~XXX~

Rinrin baru saja menyelesaikan panggilannya dengan Aegy.

“Aegy bersama Suho oppa..” desis Rinrin.

“Hal yang bagus..” komentar Kris singkat. “Sekarang pejamkan matamu.. Kita tidur..” Kris langsung memeluk Rinrin seperti guling.

“Ya! Kris jelek.. Apa yang kau lakukan!?” Rinrin berontak.

“Diamlah Putri Tidur..” desis namja itu hampir tak bersuara.

“Tapi bukan begini juga..” Rinrin bahkan tidak akan bisa tidur kalau seperti ini. Sejak kapan Kris berubah menjadi sangat pemalas dan otoriter?

“Aku tidak bisa bernafas Kris jelek..”

“Tidur. Atau kucium nanti..”

Seketika Rinrin bungkam. Kris begitu kejam, semena-mena terhadapnya. Gadis itu menggerutu tanpa suara. Namun, saat ia menatap ke samping kanannya terlihat Kris sudah terlelap. Sepertinya pemuda itu tertidur karena kelelahan.

Lama gadis itu menatap Kris, membuatnya ikut mengantuk. Rinrin mulai menguap. Tidurnya tadi pagi masih belum pulas, terlebih karena kehadiran Kris jelek itu. Akhirnya Rinrin mulai terpejam.

Tak berapa lama setelah Rinrin tertidur Kris mulai membuka matanya. “Manis..” bisik Kris. “Kalau seperti ini bagaimana aku bisa tidur…” Pemuda itu mengacak rambutnya.

~XXX~

 “Ada apa?” Tanya Suho. Ia telah menghabiskan mangkuk buburnya. Namja itu sedang mengelap bibirnya dengan tissue. Namun ia melihat Aegy masih belum juga menghabiskan mangkuk buburnya.

“Aku masih tidak mengerti…” Aegy berpikir.

“Wae?”

“Jadi kalian free hari ini?” Aegy semakin bertanya.

“Kami tidak ada jadwal. Karena itulah aku menyusulmu ke tempat ini..”

Mata Aegy membulat. “Jadi Kris juga libur!?”

“Ne..” Suho lalu meminum teh panas yang ia pesan. “Mengapa wajahmu jadi panik seperti itu?”

“Ya! Ramyun pabo jelek! Bagaimana kalau tiang listrik itu melakukan sesuatu dengan Ri-ah!” Sebuah sumpit hampir mendarat telak di kepala Suho jika pemuda itu tak menghindar.

 

~XXX~

Gadis itu membuka matanya. Apakah tadi ia tertidur. Rinrin melirik ke samping kanan. Kris masih terpejam. Ini jam berapa?

Jam dinding kamar itu menunjukkan pukul 9 tepat. Kurang lebih satu  jam gadis itu tidur kembali. Panas sekali hari ini. Lagi-lagi gadis itu melirik pada Kris yang tidak berubah posisi.

“Tanganmu berat sekali…” Rinrin menyingkirkan tangan Kris yang terlentang hampir mencekik lehernya. Dengan susah payah gadis itu melakukannya. Tangan Kris begitu panjang. Apalagi kalau sudah tertidur seperti ini.

Setelah dengan perjuangan penuh, Rinrin dapat bangun kemudian duduk di sisi ranjang.

Ia mengamati wajah teduh Kris saat tidur. Semburat kelelahan tergambar jelas pada garis wajahnya. “Tidurlah yang nyenyak Pangeran Es..” desisnya. Ia sedikit merasa kasihan. Kris seharusnya punya waktu istirahat lebih banyak. Tapi tidak, sebagai Rookie, EXO memang benar-benar sibuk.

Rinrin kemudian berjalan meninggalkan ranjang itu. Gadis itu menuju meja rias, menatap dirinya pada pantulan cermin. Rambutnya yang panjang tergerai. Kris bilang suka rambut panjang gadis itu.

Rambut Rinrin masih belum kering benar setelah keramas, karena ia bawa untuk tidur juga. Sebelum sarapan tadi, Kris sudah terlebih dulu mendorong Rinrin ke kamar mandi. Saat Rinrin selesai, ternyata pemuda itu sudah menunggunya dengan duduk di meja sambil bertopang dagu.

Rinrin menyisir rambutnya perlahan. Ia lalu meraih sebuah sumpit yang entah bagaimana bisa ada disana. Dengan secepat kilat ia menggelung rambutnya, membentuk cepolan khas Shin Rinrin. Ia memang lebih suka seperti ini. Lebih nyaman. Kalau ada pensil, bolpoin, atau benda-benda panjang sejenisnya, benda terdekatlah yang akan ia gunakan sebagai penggelung rambut.

Oke.. Saatnya membersihkan rumah. Gadis itu mengerling.

~XXX~

 

“Bekerjalah dengan benar.. Nanti kita bertemu lagi..” Suho mengacak rambut Aegy. Namja itu mengantar kekasihnya sampai depan kantor.

“Ne..” Aegy mengangguk. Ia berbalik dan berjalan menuju kantor. “Eung…” Namun lagi-lagi Aegy melihat pada Suho yang masih memperhatikannya. “Kau yakin mereka akan baik-baik saja?”

Suho menautkan alisnya. Apakah ini ada hubungannya dengan K-Rin?

“Jangan berpikir yang macam-macam. Tidur dalam hal ini, benar-benar tidur Ae-chan… Kau fokus saja dengan pekerjaanmu. Ara?”

Aegy menghela nafas lega. “Baiklah. Aku bisa tenang.”

~XXX~

Rinrin telah menyelesaikan semuanya dengan cepat. Ternyata apartemen kecilnya ini tidak membutuhkan waktu lama untuk dibersihkan. Sedangkan Kris, dia benar-benar tidak terbangun sedikit pun. “Dasar Pangeran Es pemalas…” desisnya sambil geleng-geleng kepala.

Setelah itu Rinrin mulai menatap laptopnya yang masih menganggur. Seperti biasa. Dia berusaha untuk online. Membuka aplikasi FB dan bertemu dengan keluarganya yang lain. Ada bunda Lee Je Hwa, Min Rin eonni, Hye Min saeng, Haeyeon magnae, dan Velly saeng tak lupa tentunya Shin Aegy sepupunya sendiri. Mereka berkumpul secara online di komunitas yang bernama Ppappiyong Family.

Mengapa diberi nama Ppappiyong? Rinrin tersenyum. Pertama, tentunya karena itu lucu. Kedua, karena Ppappiyong – Butterfly – Chou adalah kupu-kupu. Ketiga, tentu filosofi dari arti Ppappiyong sendiri, ibaratnya mereka adalah kupu-kupu kecil yang bisa menghibur satu sama lain, kupu-kupu adalah benda yang indah dan itu mengibaratkan keluarga ini dapat terus menjalin hubungan dengan harmonis, indah dan menyenangkan, walaupun mereka tak sedarah, namun mereka punya ikatan kuat. Alasan terakhir, kupu-kupu memberikan kehidupan bagi bunga-bunga dengan menyebarkan sarinya, dengan ini mereka berharap dapat menularkan kebahagiaan yang mereka miliki kepada orang lain.

Kembali pada Ppappiyong Family. Anggota grup ini semua adalah kekasih EXO member, tentu saja dapat dimengerti. Hubungan mereka begitu dekat, sangat dekat, dan benar-benar dekat.

Bahkan mereka sering melakukan kegajean, baik saat bertemu secara langsung ataupun di dalam dunia maya.

Rinrin menghela nafas. Akhir-akhir ini ia memang belum dapat bertemu dengan Ppappiyong sesering biasanya. Semenjak aktivitas kerja dan kegiatan kuliah masing-masing anggota dimulai lagi, sepertinya waktu mereka berkurang. Rinrin rindu kebersamaan mereka.

Ia mulai menjelajah. Ternyata sedang ada beberapa orang yang tampak~

Siapa lagi kalau bukan Shin Aegy sepupunya sendiri, ada juga Min Rin eonni, dan terakhir Hyeon Hyo saeng~ Lalu muncullah Park Hye Min.

Setelah merasa cukup lelah untuk online. Rinrin mulai merenggangkan  otot-ototnya. Ia mendekati ranjang, dan melihat Kris masih terlelap. “Melihatmu.. Aku jadi lapar..” desis gadis itu.

 

~XXX~

00.30 PM

“Aish, kemana orang-orang? Kenapa mereka belum kembali?” Aegy melirik arlojinya. Sudah jam setengah satu, dan ini waktunya makan siang. Ia lapar. Sedangkan sedari tadi Suho sudah menghubunginya, menunggu gadis itu untuk makan siang bersama.

Lagi-lagi ponselnya berdering… Cepat-cepat Aegy menjawab.

“Yeobosoyeo..”

“Masih belum ada yang kembali?”

“Belum…”

“Berapa lama?”

“Mollayo oppa.. Mian. Aku tidak bisa menemanimu makan siang..”  Aegy menghela nafas penuh penyesalan.

“Baiklah.. Tapi kau harus makan sesuatu.. Isi perutmu..” Suho juga terdengar sendu.

“Ne oppa. Selamat menikmati makan siangmu..”

Aegy menutup flip ponselnya tidak bersemangat. Ia benar-benar lesu sekarang ini. Mengapa di saat ia ingin bahagia ada saja yang menghalangi. Hari-hari di kantornya sudah begitu berat, bertemu Suho adalah pelepas dahaga yang ia miliki. Seperti mata air yang muncul di padang pasir. Suho adalah malaikat pelindungnya, kekasihnya yang sangat berharga.

~XXX~

Suho terlihat sedang mengaduk-aduk kopinya tanpa minat. Acara makan siangnya bersama Aegy gagal sudah. Ia sebenarnya ingin menghabiskan waktu bersama Aegy seharian ini, tapi mengapa tidak bisa juga?

Ini sungguh tidak baik.

“Myunpa?!”

Tiba-tiba sebuah suara mengangetkannya. Suho langsung berbalik. Ia mengenali suara itu. Senyuman manis Shin Rinrin dan wajah ngantuk Kris dalam penyamaran menyambutnya.

“Eh? Kalian berdua disini?” Suho terbelalak.

“Kami ingin makan… Boleh bergabung?” Rinrin bertanya.

“Tentu saja. Duduklah…” Suho mengeluarkan senyum manisnya. Sedangkan Kris duduk tanpa ekspresi. Suho jadi sedikit merasa aneh dengan namja itu. Mengapa ia terlihat seperti baru bangun tidur?

“Kau sendirian disini?” tanya Kris pada Suho. Wooo… HoKris beraksi. Sedangkan saat itu Rinrin mulai asyik melihat buku menu.

Mengingat pertanyaan Kris membuat Suho bersedih. “Begitulah..” Suho tersenyum masam. Rinrin melirik namja itu. “Kau tidak mengajak Aegy makan siang oppa?”

Suho menggeleng pelan.

“Bagaimana kalau kupanggilkan dia?” Rinrin mulai antusias. Makan siang dengan banyak orang itu menyenangkan.

“Dia tidak bisa..”

~XXX~

Jam istirahat berakhir, dan Shin Aegy hanya bisa makan dengan satu cup ramen. Setidaknya itu bisa mengganjal perutnya. Terlebih Shin Aegy merasa ramen itu cukup nikmat.

“Oke..! Mulai kerja lagi. Fighting Shin Aegy!!” Gadis itu terlihat bersemangat. Ia harus bisa melalui hari ini dengan baik. Terdiam dengan berbagai pikiran tidak akan mengubah hidupnya.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Apakah Suho meneleponnya lagi? Aish, mengapa namja itu sekarang jadi mirip sepupunya. Terlalu overprotectif padanya.

Namun Aegy terbelalak. Ternyata bukan Suho yang menelepon, melainkan Shin Rinrin.

‘Panjang umur sekali dia..’ batin Aegy.

“Yeobosoyeo Ri-ah…”

“Kau sudah makan siang belum Aegy?”

Pasti mulai. Gadis itu mulai menanyakan apa yang ia lakukan seharian ini.

“Tentu sudah Shin Rin Rin chagi…”

“Kau begitu sibuk hari ini. Tapi syukurlah kalau kau sudah makan. Dengan apa?”

“Cup ramen…”

Hening sejenak. Aegy yakin, beberapa detik lagi pasti ia akan diceramahi.

“Ya!! Kenapa kau malah makan makanan seperti itu!? Kau harusnya makan nasi Aegy!”

Aegy mendesah. Benar kan dugaannya.

“Ini tidak seburuk itu Ri-ah. Ramen juga cukup nikmat…”

“Aniyo!! Kau harus makan nasi!”

“Aku tak ada waktu melakukannya.”

“Kau harus meluangkan waktu. Terlalu banyak mengkonsumsi mie tidak baik untuk kesehatanmu…” Suara gadis di seberang mulai menajam.

“Kau tau kan aku suka mie. Apalagi di saat sibuk seperti ini terlalu malas untukku pergi keluar…”

“Bahkan untuk makan siang bersama Myunpa pun tak bisa?”

“Ne…” Aegy mengangguk. “Tenanglah Ri-ah. Aku sudah biasa… Tidak akan apa-apa.”

Hening lagi. Hingga sebuah suara dingin terdengar, “Baiklah. Terserah. Mau sakit atau sehat itu urusanmu…”

PIP

“Hey… Ri-ah… Aish, mengapa jadi seperti ini…” Aegy menatap layar ponselnya. Sepertinya Rinrin marah karena sikapnya yang begitu. Oh ini tidak bagus.

~XXX~

“Apa yang terjadi Rin?” Suho terlihat khawatir saat menatap wajah Rinrin yang merah padam. Kesal, marah bercampur dalam guratan wajahnya itu. “Bagaimana dengan Aegy?”

“Dia sudah makan ramen…” jawab gadis itu dingin. Suho terperanjat. Kris yang tadi sibuk memandang keluar langsung menatap Rinrin.

“Sekarang kau harus makan…” ujar namja itu, mengangsurkan sepotong daging pada kekasihnya. Rinrin menolak. “Aku tak berselera…” desisnya.

Saat itulah ponsel Rinrin berdering. Namun gadis itu mengacuhkannya. Hal ini membuat Suho dan Kris saling pandang. Apakah  terjadi sesuatu?

“Aku pulang…” Gadis itu langsung menyambar tas selempangnya. Bahkan ia meninggalkan Kris berduaan saja dengan Suho, masih dengan banyak pertanyaan pada kedua leader EXO itu.

~XXX~

Rinrin membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamar. Matanya mulai membiasakan dengan cahaya gelap di ruangan itu. Gadis itu bangkit dengan agak malas. Ia hidupkan saklar dan menatap jam dindin yang terpasang manis di dinding kamarnya. Jam setengah 6 sore.

Gadis itu lalu berjalan cepat ke dapur. Menuangkan segelas air dingin dan meminumnya sampai habis. Ah, kepalanya pusing. Setelah dari restoran tadi ia langsung tidur sampai sore ini.

Tidur dapat menjernihkan pikiran. Itu yang ia lakukan.

Gadis itu melangkah gontai menuju ruang tamu. Namun, matanya seketika terbelalak saat mendapati Kris disana sedang santai membaca surat kabar sore. Gadis itu mengedipkan matanya, mencoba berpikir ini bukan ilusi.

“Duduklah…” desis namja itu tanpa melirik.

“Kau disini?”

Kris tak menjawab. Kemudian menutup surat kabar yang ia baca. Dengan bahasa isyarat dia meminta Rinrin untuk duduk di sampingnya. Akhirnya gadis itu menurut saja.

Mereka terdiam lama di dalam ruangan itu.

“Kris.. Apakah aku salah?” Rinrin membuka suara. Kris tak merespon. Ia memberikan kesempatan pada kekasihnya untuk bicara.

“Apakah aku salah jika aku peduli padanya?” Rinrin lalu menghela nafas. “Auks sadar, aku kadang memang berlebihan. Apakah aku ini menyebalkan?”

Tiba-tiba Kris sudah membawa Rinrin dalam pelukannya. “Kau tidak menyebalkan, kau tidak berlebihan, dan tidak ada yang salah dalam masalah ini…” Namja itu berucap. Ia memberi jeda sejenak, lalu melanjutkannya, “Kau hanya terlalu sayang padanya hingga kau melakukan ini.”

 

~XXX~

Sudah malam, dan Aegy pun belum pulang. Rinrin mondar-mandir di ruang tamu menantinya. Kris sudah pulang satu jam yang lalu. Setelah sebelumnya ia membantu gadis itu menyiapkan makan malam.

Oke, ini sudah jam 9 malam. Tidak seharusnya gadis itu belum pulang. Apakah karena masalah tadi siang akhirnya jadi begini. Rinrin menggigiti kuku jarinya. Ia benar-benar khawatir sekarang. Dengan cepat gadis itu menyambar blazernya. Ia tak mau menunggu lagi. Ini salahnya, ia yang harus bertanggung jawab dan meminta maaf lebih dulu.

Gadis itu langsung mematikan seluruh lampu ruangan. Memakai blazer krem favoritnya, lalu dengan cepat berlari keluar apartemen. Langkah gadis itu terhenti setelah membuka pintu apartemen. Matanya terbelalak.

“AEGY!!!”

Ia dapati sepupunya yang ia khawatirkan berjongkok dalam keadaan tidur di samping pintu. “Aigoo…!”

Rinrin hampir menangis. Ia segera jongkok dan memeluk sepupu kesayangannya itu. Aegy langsung terbangun akibat guncangan hebat.

“Ri-ah?”

“Maafkan aku… Aku bersalah padamu Aegy-ah. Tidak seharusnya aku terlalu mengaturmu. Kau mungkin bosan dengan sikapku yang seperti ini. Aku takkan melakukannya lagi… Jeongmal mianhae…” Rinrin larut dalam penyesalan. Ia tentu benar-benar merasa bersalah karena semua kejadian ini. Tapi tentu saja ia bersyukur, karena sepupunya dalam keadaan baik-baik saja.

“Kau bicara apa?” Aegy menjitak pelan kepala Rinrin. Ia menatap langsung pada sepupu sekaligus sahabatnya itu. “Jangan bilang seperti itu lagi… Aku senang kau perhatikan.” Aegy tersenyum.

“Tapi aku merasa bersalah padamu…” Rinrin memasang raut kesedihan.

“Terlalu banyak yang terjadi hari ini Ri-ah.” Aegy menghela nafas. “Lebih baik sekarang kita masuk…” Ia tersenyum, menampakkan sosok Shin Aegy yang seperti biasanya. Berusaha ceria di saat ia depresi (?).

“Kau yakin tidak apa-apa?” tanya Rinrin. Aegy mengangguk.

“Gwaenchana. Bukankah kita dulu pernah berselisih karena masalah seperti ini?”

Rinrin mengangguk. Aegy benar. “Kuharap takkan terjadi lagi…” bisik Rinrin.

“Tentu saja.” Aegy tersenyum. “Eung, ada satu lagi. Bisa kau bawa masuk orang itu juga?”

Rinrin tertegun. Kemudian dengan petunjuk dari Aegy, ia menatap ke sudut lain apartemen. Terlihat seseorang tidur dengan pulas. “Seharian dia membuntutiku, dan seharian pula dia kuabaikan, kasihan dia..”

“Kyaaa!! Myunpa!”

~FIN~

FF gaje dari saia… =___=

Hahaha~~~ Entahlah, sedang ingin menulis soal ini. Kyaaa… Aku sayang kalian semua. Sayang Ppappiyong Family, dan kau juga Shin Aegy. Konflik kemarin saya taruh dalam bentuk FF. Hueee T___TMian…. 

Oke… untuk Let’s Break akan saya lanjutkan secepatnya. Gairah menulis saya sepertinya mulai hidup🙂

Thankyu all, we are everlasting friends right?

I love you so much….~~

4 responses »

  1. kkkk^^
    dari awal baca ff mu eonni , aku ngerasa suho oppa pasti nasibnya buruk ^^
    ok eonni, feelnya dapet🙂
    nice ff eonni🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s