>>[Oneshot] Lady Unicorn <<

Standar

1385178_209712265866933_483507335_n

Cast :

>>Zhang Yi Xing (Lay EXO-M)

>>Park Young Ah

Sub Cast :

>>Xi Lu Han

>>Wu Yi Fan (Kris)

>>Lee Donghae

Disclaimer : EXO belong to themselves, but this ff is mine!! Don’t copas anywhere!  

Author : Ririn Cross

FB : Ririn Cross, Twitter : @RirinCross

Pict by : Putri MinozElf Ramadhani

Genre : AU, Romance, Hurt/Comfort, 

Rated : T

Lenght : Oneshot (3.867 words)

Warning : OOC maybe, miss typo, and any more.

A/N : FF yang kudedikasikan untuk Fika eonnie. Selamat ulang tahun eonniku tersayang. Semoga kau sehat selalu. Aku mendapat ide cerita ini inspirasi dari unamemu untuk comentmu di ff K-Rin HoAe–> [FF K-Rin HoAe] Tantangan Part 1 kkk~ Kuharap kau menyukainya. ^^

Thanks buat Putri MinozElf Ramadhani yang udah buatin poster FFnya. 


Dan makasih buat adikku tersayang Wahyu Aprillia atas keterangannya tentang medical :3 Semoga cita-citamu untuk jadi dokter spesialis interna atau dokter anak dapat tercapai ya dek, aku sayang padamu❤ Sukses buat ujian skripsimu hari ini! Fighting!

 ——Lady Unicorn—–

“Eomma, aku berangkat!” Young Ah merapikan tatanan rambutnya dan segera meraih tas bepergian miliknya.

“Bahkan matahari belum muncul, Young Ah!”

“Aku kembali saat makan malam, jika tidak ada pasien tambahan.” Young Ah menggigit roti selai yang sempat ia raih dari meja makan. Ibunya di dapur hanya bisa menghela nafas pelan. Putrinya benar-benar sangat sibuk.

Yeoja itu tidak mempunyai cukup waktu untuk berkemas, ia mendapat kabar dari rekannya kalau ada pasien yang harus ditangani segera. Ia bahkan menyalakan mesin mobilnya buru-buru sambil tetap menggigit kue yang ada di mulutnya. Ia memacu gas cukup cepat seperti di arena sirkuit.

Tak lama kemudian, ia sampai di Seoul Hospital. Young Ah segera memarkirkan mobil di basement. Dengan langkah yang terburu-buru gadis cantik itu menuju resepsionis yang menyambutnya dengan hormat. Tak ada waktu untuk berbincang. Ia bergegas ke ruang kerjanya dan menyambar jas praktek. Ia kenakan jubah kebesaran miliknya itu dengan terburu-buru.

“Dokter Park, pasien butuh penanganan segera.” Seorang pria bermata bulat yang merupakan asistennya membawa sebuah laporan.

“Siapkan segala hal yang diperlukan. Aku akan memeriksanya terlebih dulu.” Young Ah merapikan kancing jasnya, kemudian mengikat rambutnya agar tidak menghalangi.

“Dokter Xi telah mendiagnosa. Ada yang gawat dari pasien ini, Dok..”

“Apa maksudmu Kyung Soo-sshi?” Dokter muda itu mengerutkan alisnya tak mengerti.

“Pasien menderita blood disoder, dan yang lebih parah hemofilia.” Kyung Soo sang asisten memberikan berkas itu.

Oh God. Ini tidak akan mudah. Siapa nama pasiennya?”

“Zhang Yi Xing.”
Seketika Young Ah terpaku.

~XXX~

 

            Operasi darurat akan segera dilakukan. Park Young Ah bekerja sama dengan Xi Lu Han, sang dokter spesialis anestesie akan menangani pasien bernama Zhang Yi Xing. Namun, Luhan menangkap ada ekspresi berbeda dari rekan kerja satu timnya itu.

“Young Ah!” Sentakan keras dari Luhan yang ke-3 kalinya langsung memyadarkan yeoja itu dari lamunanan.

“Ne?” Ia terlihat ling lung.

“Oh astaga. Fokusmu terbagi, bagaimana kau bisa menangani pasien ini nantinya?” Luhan berhenti berjalan. Ia mendecak menatap Young Ah.  Bagaimana tidak, bahkan Luhan harus menyadarkan Young Ah dengan memanggil nama akrabnya, padahal mereka sedang di forum resmi, rumah sakit tempat mereka bekerja, namun Young Ah malah melamun?

“Mianhae..” Young Ah membungkuk. Luhan memang lebih senior dari dia. Kakak kelasnya, namun mereka sama-sama masih seorang dokter muda di rumah sakit ini.

Luhan terlihat mengerutkan keningnya saat menatap kegelisahan yang terdapat di raut wajah yeoja itu. “Kau sakit?”

“Aniyo..” Young Ah menggeleng.

“Baiklah aku akan bekerja sama dengan Dokter Wu saja untuk operasi kali ini.”

“Aku bisa profesional.” Young Ah meyakinkan. Bagaimana mungkin operasi pertamanya setelah ia dilantik resmi menjadi dokter spesialis selama masa kuliah 3,5 tahun, praktek co-as 1 tahun, dan spesialis anestesi selama 4 tahun ini kandas begitu saja.

“Aku tidak ingin mengambil resiko untuk pasien ini, Park Young Ah. Mengertilah.” Luhan tersenyum simpul. Ia bisa membaca suasana hati rekannya tersebut.

“Aku mampu, Dokter Xi.”

“Aku tahu dia teman masa kecilmu,” tandas Luhan. Park Young Ah terdiam.

~XXX~

 

            “Young Ah, apa cita-citamu?” Pria kecil itu terlihat menggarap sesuatu di tanah. Ia membuat sebuah goresan lancip ketika Young Ah kecil menatapnya.

“Emm.. Apa ya?” Young Ah kecil saat itu terlihat berpikir. Ia bahkan belum tahu mengenai definisi cinta saat itu. Ia masih begitu polos. Kembali ia menatap pemuda kecil di sampingnya yang entah kenapa sudah mulai menyelesaikan setengah bentuk goresan di tanah yang mereka pijak ini. “Aha! Aku ingin jadi dokter!” jawab Young Ah yakin.

Pemuda kecil itu menatapnya sambil tersenyum. Dimple manisnya terlihat jelas. Ia tampan ketika itu. “Cita-cita yang mulia.” Ia menatap Young Ah sejenak dan menyelesaikan goresan terakhir dari gambar miliknya.

“Hey kau sedang menggambar apa Yi Xing-ah?” Young Ah terlihat mengintip dari balik tangan pemuda itu. Ia menatap wajah Yi Xing yang tampak puas. “Kuda bertanduk?” Young Ah mengerutkan alis.

“Ini Unicorn.”

“Aku belum pernah mendengar namanya.”

“Tentu saja. Makhluk mitos ini berasal dari legenda Eropa. Kuda berwarna putih yang mempunyai tanduk spiral di dahinya.” Yi Xing mencoba menjelaskan.

“Kenapa kau menggambar itu?” Young Ah menatap Yi Xing bergantian dengan sang unicorn. “Oh ya, kau belum mengatakan apa cita-citamu?”

“Karena aku ingin menjadi seperti Unicorn. Darahnya bisa memberikan keabadian.”

 

~XXX~

 

            Yi Xing, pemuda itu merasakan dunianya berputar. Sesuatu menggelitik perutnya hingga ia harus membuka mata. Tubuhnya remuk redan, bahkan ia tak bisa merasakan apapun. Hingga kemudian sebuah dorongan membuatnya membuka mata.

Ia memuntahkan cairan merah itu di kasurnya. Sangat banyak, bahkan ia tak percaya itu darahnya. Pusing menggerogoti kepalanya, dan ia tak bisa mengenali apapun lagi. Ia melihat yeoja itu tampak panik. Samar pandangannya menatap sosok itu.

“Yi Xing-ah!!!”

“Young Ah…” rintih pemuda itu.

“Jangan banyak bicara.”

“Uhuk!” Kembali Yi Xing memuntahkan cairan itu. Young Ah menggigit bibirnya. Ia mengelus tengkuk namja itu. Segera ia tekan tombol darurat untuk memanggil Luhan atau Kris –panggilan akrab Dokter Wu-. Tentu saja Dokter Xi dan Dokter Wu harus segera menangani pasien mereka. Bahkan Young Ah sebagai dokter pun kalut di saat seseorang yang ia sayangi dalam kondisi kritis seperti ini.

“Jangan banyak bicara!” sentak yeoja itu.

Yi Xing tak mempedulikannya. Ia malah menggenggam tangan Young Ah erat. Sedikit gemetar karena ia tak punya tenaga sama sekali. “Akhirnya aku bertemu denganmu. Setelah sekian lama.. Akhirnya..”  Kemudian Yi Xing merasakan kegelapan mulai membuatnya terpisah dengan Young Ah kembali. Terpisah.

“Yi Xing!”

“Dokter Park, sebaiknya tenangkan dirimu.” Luhan dengan sarung tangan dan masker di mulutnya segera mengambil tempat untuk memeriksa denyut nadi Yi Xing dengan stetoskop.

“Tekanan darahnya menurun. Siapkan transfusi darah, suster Shin.” Kris memberikan tabung oksigen untuk Yi Xing. Suster Shin mengangguk patuh dan segera berlari keluar, sedangkan Young Ah mundur teratur. Tak percaya keadaan Yi Xing begitu parah. Kenapa pemuda itu selama ini menyembunyikan penyakit berbahaya ini darinya?

~XXX~

Young Ah memasuki ruangan serba putih. Ia berjalan perlahan menuju ke sebuah ranjang. Di sana tampak seseorang yang sangat dikenalnya sedang terbaring kaku. Bunyi elektrokardiograf mewarnai ruangan sepi yang kedap suara tersebut.  Alat pendeteksi jantung itu masih menunjukkan garis naik turun yang tidak teratur. Tetesan selang transfusi darah masih mengalirkan cairan merah ke ujung nadi pemuda itu. Pasca operasi besar, benar saja ia kehilangan banyak darah.

“Yi Xing-ah…” Young Ah tak bisa menahan air matanya. Ia tidak tega melihat keadaan pemuda itu yang terlihat tak berdaya. Ia dengar Yi Xing mengalami kecelakaan saat menolong seorang anak kecil yang tiba-tiba menyeberang di jalan raya. Dia sangat baik. Dari dulu Yi Xing adalah orang yang baik. Tapi mengapa ia harus menderita penyakit yang cukup mematikan seperti hemofilia dan blood disorder?

Young Ah kini duduk di samping pemuda itu. Ia genggam tangan Yi Xing yang masih belum sadar. Sudah 3 hari ini pemuda itu terbaring di sana. Operasi tersebut ternyata beresiko tinggi, ya ia mengalami koma setelah muntah darah dan mengalami shock hipotensi tempo hari.

Young Ah menatap wajah lembut Yi Xing. “Bangunlah Yi Xing-ah. Kau tidak rindu padaku, hem?”

~XXX~

 

Young Ah masih fokus pada majalah yang ia baca di perpustakaan. Saat itu Yi Xing tersenyum menatapnya dan ingin mengagetkan gadis itu, namun pria itu mengurungkan niatnya saat melihat ada seorang lelaki menghampiri Young Ah.

Lee Dong Hae, anak kelas 3 jurusan IPA. Sudah lama Yi Xing tahu kalau pemuda itu naksir Young Ah. Tapi sayangnya, segala usaha yang dilakukan oleh Dong Hae untuk mendekati Young Ah gagal. Gadis itu tidak mau. Dong Hae sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, bagaimana mungkin ia tak ingin membantu hyungnya itu sukses dengan sahabatnya sendiri. Walau itu sebenarnya menyakiti dirinya.

Yi Xing mengacungkan ibu jari saat Dong Hae tak sengaja menatapnya. Dong Hae pun membalas dengan senyum ceria. Namun, tiba-tiba Dong Hae dihampiri oleh beberapa teman-temannya. Kelihatannya ada sesuatu? Bahkan Dong Hae cepat-cepat pamit dengan Young Ah dan tidak sempat memberi salam pada Yi Xing.

Yi Xing memutuskan menghampiri Young Ah yang kembali sendiri.

“Apa yang sedang kau lihat?” Yi Xing menatap Young Ah yang sedang asyik membolak-balik sebuah majalah. Sesekali gadis itu tersenyum saat memandang tiap foto yang membuatnya hampir selalu mengatakan ‘wah’.

Fashion tentang gaun pengantin. Semuanya cantik-cantik.” Young Ah masih tak mengalihkan fokus dari majalah yang menyita perhatiannya.

“Begitukah?” Yi Xing  mencondongkan tubuhnya mendekati Young Ah, menatap dress yang kini dilihat gadis itu dengan berbinar-binar. Yi Xing tersenyum sekilas menatap gadis itu. Young Ah tampak bahagia.

“Kau tidak punya nilai seni, Yi Xing-ah.” Young Ah segera mempoutkan bibir. “Aku benar-benar ingin mengenakannya.”

“Hey, pacar saja kau tak punya bagaimana mau menikah?” Yi Xing mengatakannya dengan wajah tanpa dosa.

PLETAK

Young Ah memukul Yi Xing dengan majalah itu. Otomatis pemuda itu merintih kecil. “Ya! Park Young Ah, seenaknya saja kau memukulku.”

“Ah maaf, tanganku terpeleset.” Young Ah menjulurkan lidahnya, meledek Yi Xing.

“Pasti sengaja.” Gerutu pemuda itu dengan muka masam.

Young Ah hanya bisa tersenyum senang. “Karena kau menyebalkan.” Mereka terlibat dalam keheningan untuk beberapa saat setelah Young Ah puas meledek Yi Xing. Akhirnya, Young Ah sibuk kembali dengan majalah tersebut, sedangkan Yi Xing terlihat memikirkan sesuatu sambil menatap siswa yang lalu lalang memasuki perpustakaan.

“Young Ah.” Ia memanggil nama gadis itu.

“Hem?” Young Ah tak memperhatikan Yi Xing. Ia menjawab sekenanya.

Setelah memikirkan berulang-ulang akhirnya Yi Xing mulai menyuarakan pertanyaan yang mengganggu pikirannya. “Mengapa kau tidak menerima Donghae Hyung? Ia terlihat sangat mencintaimu?”

Sedetik kemudian raut wajah Young Ah berubah.  “Haruskah aku menerimanya?”

“Ya.” Sedikit bergetar Yi Xing mengatakan itu. “Dia bisa membahagiakanmu.”

“Tapi aku ingin bahagia denganmu.” Young Ah menyerukan kalimat itu lirih. Yi Xing terdiam mendengar Young Ah mengatakan itu.

“Mianhae. Jangan menungguku lagi.” Pemuda itu langsung berdiri dan menjauh dari Young Ah.

“Aku mengerti, sahabat selamanya tetap sahabat, bukan?” Young Ah menatap punggung Yi Xing yang menjauh. “Tapi, bukankah dinding itu bisa dihancurkan?” Young Ah menggumam lirih. Ah. Dunia ini tidak adil.

~XXX~

Young Ah berjalan ceria menuju kelas. Ia ingin segera memberitahu Yi Xing bahwa ia mempunyai resep masakan baru yang harus mereka coba bersama di rumah nanti. Meskipun sangat maskulin, tetapi Yi Xing cukup jago memasak. Bahkan, Young Ah kalah jika dibandingkan dengan kemampuan memasak namja itu.

            “Yi Xing-ah…” Seketika langkahnya tiba-tiba terhenti. Young Ah berdiri mematung di depan kelas mereka. Yi Xing terlihat asyik bicara dengan seorang gadis. Mereka tampak sangat akrab dan mereka cocok?

Young Ah masih terdiam hingga tiba-tiba ia melihat Yi Xing yang menatap ke arahnya. Sedikit terkejut. Young Ah hendak berseru tapi penglihatan Young Ah langsung kabur seketika, kepalanya terasa pusing saat ia melihat Yi Xing mencium gadis itu.

“Young Ah?” Dong Hae terlihat menghampiri. Young Ah menatap orang itu linglung.

Butiran-butiran bening meluncur dari sudut mata gadis itu. Young Ah memeluk Dong Hae dan menangis di dada sang namja. Menangis sangat deras. “Oppa.. Kenapa disini sakit sekali? Hiks..” Tangan Young Ah menyentuh dadanya.

~XXX~

Young Ah dan Yi Xing  berada di dapur dalam diam. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Young Ah mengiris bawang sedikit pelan.  Setelah menimbang-nimbang, ia ingin tau kejelasan dari Yi Xing. “Siapa gadis itu?” Young Ah memecahkan kesunyian diantara mereka.

Yi Xing menaikkan alisnya. Ia tahu maksud Young Ah. Gadis yang ia cium di kelas waktu itu, bukan? “Shin Ha Rin. Kau mengenalnya tentu.” Yi Xing mengiris paprika sedikit lebih pelan.

“Posisinya?” Young Ah menghentikan irisan bawangnya. Ia mengusap wajahnya pelan. “Maksudku, apa dia telah menjadi kekasihmu?” Bergetar bahu Young Ah saat menanyakannya.

Yi Xing terdiam sejenak. “Begitulah,” jawabnya singkat.

Pertahanan Young Ah segera runtuh. Ia kembali menangis saat mendengarnya. Ah sungguh. Ini siksaan batin untuknya. Isaknya mulai terdengar saat itu. “Bawang ini membuat mataku pedih,” dustanya.

Yi Xing tahu Young Ah menangis karenanya. Sungguh perih. Tapi takdir memang sungguh kejam.

Crash..

Yi Xing tak sengaja mengiris jarinya ketika itu karena pikirannya terbagi. Setelahnya rumah mereka menjadi ramai. Yi Xing segera dilarikan ke rumah sakit karena mengalami pendarahan. Young Ah terpukul, ia tidak tahu apa-apa. Walaupun ia heran, sebenarnya apa yang terjadi dengan Yi Xing. Setelah itu tak pernah ada kabar lagi dari keluarga Yi Xing. Mereka semua pindah kembali ke Cina. Dan Young Ah, gadis yang baru berusia 17 tahun saat itu, bahkan setelah patah hati, ia harus merelakan cintanya kandas begitu saja.  

 

~XXX~

            Kilasan-kilasan balik kepingan masa lalu menghantui pikiran Yi Xing. Semuanya ia lihat dari sudut pandang Young Ah. Hingga pemuda itu sampai pada sebuah titik dimana Young Ah berdiri tampak jauh di ujung cahaya. Ia mengulurkan tangannya. Ah, haruskah Yi Xing menyambut uluran tangan itu? Atau meninggalkan Young Ah kembali menghilang di balik cahaya.

“Kau tidak rindu padaku hem?” Tiba-tiba Young Ah telah berdiri di sampingnya, menggenggam tangan Yi Xing. Pemuda itu tak bisa mengatakan apapun. Young Ah tidak menginginkan dia pergi. Ekspresi menyakitkan tampak dari raut wajah gadis itu.

“Young Ah…” bisik Yi Xing.

Segera setelah itu semuanya menghilang. Yi Xing membuka matanya dan ia menatap langit-langit putih rumah sakit. Menoleh ke samping atas mendapati kantung darah yang masih setia mengalirkan cairan merah itu ke tubuhnya, dan ia lihat ada sosok yang tertidur menggenggam tangannya hangat.

“Park Young Ah…” lirih Yi Xing bergumam. Suaranya masih belum keluar. Young Ah sontak terbangun ketika ia menyadari  pergerakan lain dari Yi Xing.

Meskipun wajah Young Ah kusut karena semalaman menjaga Yi Xing –tidak sepenuhnya semalaman, karena kebetulan Young Ah juga merangkap Dokter piket malam ini, sehingga ia harus membagi waktu dengan pasiennya– di rumah sakit ini. Ia langsung bahagia begitu melihat pria ini terbangun. “Astaga, kau sudah sadar?” Young Ah menangkup wajah Yi Xing.

Pemuda itu tersenyum dan mengangguk. “Masih sakit? Aku akan segera memanggil Dokter Xi.” Namun Yi Xing menggeleng. Ia masih ingin bersama lebih lama dengan Young Ah. Berdua.

~XXX~

 

“Hey, bukankah aku tidak adil. Mengapa aku merasa mendapat pelayanan lebih istimewa daripada pasien lain, Dokter Park?” Yi Xing menatap Young Ah yang berada di ujung pintu. Kesal dengan sikap Yi Xing yang terlihat seperti ingin mengusirnya Young Ah hendak memutar langkah kembali pergi dari tempat itu. “Tidak. Jangan pergi.” Yi Xing menahannya.

“Kau mengesalkan, Tuan Zhang.” Young Ah kemudian mendekati ranjang Yi Xing. Mengeluarkan segala hal yang dirasanya perlu untuk memeriksa kondisi sang pasien.

“Aku hanya merasa terlalu diistimewakan. Kau setiap saat datang menemuiku. Apakah itu tidak berlebihan?” Yi Xing melihat Young Ah memasangkan alat pengukur tensi ke lengan pemuda itu.

“Aku hanya mengecek keadaanmu.”

“Bukankah yang menanganiku Dokter Xi dan Dokter Wu?”

“Catatan, Dokter Wu menyerahkan perawatan masa penyembuhanmu padaku. Ia ada dinas ke Vancouver kemarin lusa.” Young Ah mengoreksi kata-kata Yi Xing. Ia masih angkuh mempertahankan posisinya sebagai dokter yang merawat Yi Xing, dokter pribadi tentunya.

“Ah ya, aku melupakan itu, tapi perlukah setiap 4 jam kau mengecek tensiku, hem? Dimanapun, bahkan Dokter pribadi hanya menemui pasiennya sekali dalam sehari.” Yi Xing terlihat seolah berpikir, dan saat itu ekspresinya terlihat imut. “Jangan-jangan kau merindukanku?”

BLUSH

Young Ah tiba-tiba memerah. Ia malu mendapati Yi Xing menebak mengapa ia datang terus-menerus ke bangsal tempat Yi Xing dirawat ini. Sungguh memalukan. Bagaimana ia bisa menghadapi Yi Xing dengan wajah seperti ini. Semerah tomat.

“Aku selesai. Minumlah obatmu teratur.” Young Ah menyembunyikan wajahnya, seraya membereskan alat medis yang ia bawa. Namun, tangannya ditahan Yi Xing. “Tunggu.”

“Apalagi?” Young Ah masih memalingkan wajah tak ingin bersitatap dengan Yi Xing.

“Kau belum memeriksa denyut jantungku?”

“Tidak perlu,” ketus Young Ah. “Kau sudah cukup sehat, Tuan Zhang.”

Yi Xing menarik Young Ah mendekat. Sentakan itu membuat wajah Young Ah dan Yi Xing hanya berjarak beberapa jengkal saja. “Tapi jantungku sepertinya berdetak tak normal saat bersamamu, Dokter Park. Kau tahu tidak ini penyakit apa?”

~XXX~

Setelah tiga minggu dirawat barulah Yi Xing sembuh. Penyembuhannya terhitung lebih cepat, mengingat Yi Xing seharusnya menjalani perawatan lebih lama berkaitan dengan dua penyakit mematikan yang ia derita. Young Ah –sebagai dokter pribadi– dengan telaten merawat pemuda itu. Yi Xing pun tak banyak  membantah. Bahkan ia kadang-kadang menggoda sang dokter pribadi tersebut, sama seperti dulu saat mereka bersama.

Hingga suatu siang tibalah saat Young Ah kembali melakukan kegiatan rutinnya. Memeriksa pasien paling istimewa, Yi Xing tentunya. Ia terlihat berseri-seri. Namun, ia tak menemukan Yi Xing di kamarnya. Kemana dia?

“Pasien di kamar ini kemana suster?”

“Baru saja check out, Dok.” Suster itu menjawab sambil merapikan kamar Yi Xing.

“Aish! Anak itu!” Young Ah segera berlari menuruni tangga. Menyusul kepergian Yi Xing sebelum terlambat. Ia tidak mau, dan tidak ingin menunggu lagi. Sudah selama ini ia berusaha menahan rasa rindunya. Tega sekali Yi Xing meninggalkannya begitu saja seperti ini.

Young Ah melihat Yi Xing berbicara dengan resepsionis, kemudian pemuda itu bergegas pergi. Terburu-buru?

Young Ah menyusulnya dan menahan pemuda itu. “Aku belum mengijinkanmu pulang.”

“Tapi Young– mianhae, maksudku Dokter Park, aku sudah sembuh.”

“Dan seenaknya pergi begitu saja, Yi Xing-ah? Seperti 8 tahun silam?” Young Ah masih terlihat angkuh. Namun tak dapat dipungkiri  matanya terlihat berkaca-kaca. “Aku masih tetap sama, masih mencintaimu hingga kini.”

           

~XXX~

           

            Mereka berdua berbincang empat mata di kafetaria rumah sakit. Young Ah memesankan segelas susu hangat untuk Yi Xing, dan dirinya sendiri secangkir green tea. Mereka berdua sama-sama diam untuk beberapa saat. Sampai kemudian Yi Xing membuka pembicaraan.

“Tentu kau tahu aku punya penyakit yang tidak bisa dibilang biasa.”

Young Ah masih diam belum merespon. Ia menatap Yi Xing. Menyedihkan sekali jika pemuda ini meninggalkannya kembali. Ia tidak mau.

“Lantas apa yang jadi masalah, Yi Xing-ah?”

“Kita tidak bisa bersama, Young Ah.” Yi Xing menatap gelas susu di hadapannya, dan kini menatap sosok indah di depannya. Park Young Ah. “Meskipun aku mencintaimu, aku tak bisa.”

Young Ah tersentak. Yi Xing mencintainya. Sungguh? “Kau?”

“Tidak. Aku tak ingin membuat masa depanmu suram. Jika kita menikah kau tentu lebih tahu resikonya, bukan?” Yi Xing menatap serius ke dalam mata Young Ah. Sungguh, ia sangat merindukan sosok Young Ah. Namun ini tak bisa dibiarkan. Yi Xing tak ingin membuat masalah baru nantinya.

“Anak kita, akan mempunyai penyakit yang sama sepertimu.” Young Ah berucap lirih. Yi Xing tersenyum masam. Itulah resiko sejak awal. Karena itu mengapa mereka tidak bisa bersatu.

“Tapi berbeda jika kita mempunyai anak laki-laki.” Young Ah berucap.

“Maksudmu?” Yi Xing terlihat membulatkan matanya. Hey hey, Young Ah malah tersenyum lebar di ujung sana.

“Aku tahu tekniknya, Yi Xing-ah.” Yi Xing terbahak saat mendengar keterangan dari Young Ah.

“Kau lucu Young Ah.” Yi Xing masih tertawa. Young Ah mengerucutkan bibirnya. Ia seolah mengatakan ‘belum selesai’ dengan penjelasannya, dan kini Yi Xing fokus pada Young Ah.

“Kau tahu, karena kau yang menderita hemofilia berarti anak kita berkemungkinan mengidapnya juga kan nanti?” Yi Xing mengangguk. “Dan blood disorder Young Ah.” Yi Xing menambahi.

“Ah ya, itu termasuk. Kita membicarakan masalah hemofili dulu. Tapi setelah aku menganalisa, bukankah faktor hemofilimu dari pembawa ibu. Hemofili bisa diturunkan lewat orangtua. Sedangkan jika kau mempunyai hemofili berarti nanti anak kita akan hemofili? Itu salah Yi Xing-ah. Aku normal, darahku bukan pembawa. Aku telah meneliti riwayat leluhurku. Tak ada gen penyakit apapun. Jadi, kita bisa mengusahakan untuk mempunyai anak. Bahkan jika aku pembawa, genmu hanya akan menular pada anak perempuan kita. Namun, sudah kupastikan anak kita akan normal dengan keadaanku yang normal.” Young Ah mengakhiri penjelasannya dengan yakin. Yi Xing hanya melongo mendengar penjelasan dokter cantik di hadapannya ini.

“Sungguh?” Yi Xing mencoba meyakinkan. Young Ah mengangguk. Tak ada kebohongan dan keraguan di matanya.

“Namun, jika kau masih tidak yakin kita bisa mengadopsi anak.” Young Ah menambahkan.

“Tapi aku tidak ingin mengambil resiko. Aku ingin melihatmu bahagia Young Ah. Walaupun bukan denganku.” Yi Xing bergumam.

Young Ah segera menggenggam tangan Yi Xing. Ia menggeleng. “Kau mau membuatku menunggu berapa lama lagi, eoh?” Sorot mata Young Ah terlihat serius. “Aku hanya ingin bahagia denganmu. Tidak yang lain. Aku ingin menjadi Lady Unicornmu.”

Yi Xing menatap Young Ah dalam. Unicorn. Itu cita-cita masa lalunya. Young Ah masih saja mengingat gumaman anak kecil waktu itu.

“Aku ingin, membuatmu terus hidup denganku. Aku akan melakukan segala cara agar kau hidup dan tidak menderita karena penyakit itu. Aku akan selalu di sampingmu, untuk menyembuhkan lukamu dan kita akan hidup bersama Yi Xing-ah. Siapa tahu, di masa mendatang aku bisa menemukan penawar untuk membekukan darah lebih cepat? Itu akan menjadi penemuan hebat bukan Yi Xing-ah? Suamiku akan dapat bertahan hidup denganku.” Young Ah tersenyum yakin.

“Young Ah…” Yi Xing seakan ingin merengkuh gadis itu dalam pelukannya. Ia selalu menyakiti Young Ah dengan kediamannya seperti ini. Yi Xing selalu menyembunyikan penyakitnya, dan berharap menghilang dari hadapan Young Ah agar gadis itu bahagia. Sungguh tidak adil hidup ini.

“Baiklah, aku tak ingin membuat kita lebih menderita lagi.” Yi Xing tersenyum cerah. “Saranghae Park Young Ah.”

“Mwo? Jadi kau?”

“Aku mencintaimu. Aku mencintaimu sejak dulu hingga sekarang. Rasaku tidak pernah pudar walau sampai kapanpun. Tak ada wanita lain di hatiku. Bahkan untuk melupakanmu pun aku tak bisa. Kau selalu terbayang di pikiranku.” Yi Xing menyatakannya dengan lantang. Tak ada keraguan di matanya.

“Hey kau bohong.” Young Ah berceletuk. “Bagaimana dengan Shin Ha Rin waktu dulu?”

“Aku berdusta. Kau seharusnya tahu itu kulakukan yah untuk..”

Mata Young Ah membulat. “Untuk?”

“Membuatmu menjauh dariku.” Yi Xing menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ah lupakan masa lalu. Aku bodoh saat itu. Jadi, maukah kau menikah denganku Park Young Ah?”

Bibir Young Ah bergetar mendengar pengakuan Yi Xing. Kata-kata yang ingin dia dengar sejak dulu. Impiannya sejak awal. Bahagia dengan Yi Xing. “Tidak mau,” balas Young Ah.

Yi Xing seolah ditimpa ribuan beban. Baru saja ia melayang tinggi, tapi seolah saat itu ia langsung dihempaskan begitu. Sakit sekali.

“Young Ah..” rintihnya miris. Gadis itu terbahak melihat ekspresi Yi Xing seperti anak yang kehilangan mainanannya. Lebih buruk dari itu.

“Lamaran apa itu? Kau tidak memberiku cincin dan bunga?”

“Jangan bercanda.” Yi Xing gemas dengan gadis yang ada di hadapannya ini. Ia terlihat bahagia berhasil mengerjainya. “Wait me!” Yi Xing segera lari dari kafetaria itu.

“Hey kau mau kemana!? Kau baru sembuh Yi Xing-ah!” Young Ah berteriak, membuat seluruh penghuni rumah sakit itu menatap ke arahnya. Gadis itu menunduk setelah merasa membuat malu dirinya sendiri.

Tak sampai 30 menit Yi Xing kembali dengan nafas terengah.

Will you marry me?” ucapnya sambil memberikan sebuket bunga mawar yang dirangkai dengan baby’s breath –bunga kecil berwarna putih– yang bila diartikan kedua rangkaian tersebut mempunyai filosofi cinta sampai mati. Kemudian, Yi Xing mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari saku kemejanya setelah memastikan Young Ah –yang tampak terkejut– menerima buket bunga pemberian  miliknya yang juga di dapat dengan perjuangan. Pemuda itu membuka kotak merah tersebut, cincin couple bersemayam cantik di dalamnya.

“Jadilah istriku!” Yi Xing menyerukan dengan lantang. Mereka tidak sadar membuat seluruh penjuru rumah sakit menatap lamaran kilat yang dilakukan oleh Yi Xing. Cara yang cukup romantis dan sangat gentle tentunya.

I do.” Mata Young Ah berkaca-kaca. Dia merasa jadi perempuan paling bahagia saat ini. Yi Xing kemudian memeluk gadisnya erat. Sekarang ia takkan melepaskannya. Ia tak ingin melepaskan lady unicorn miliknya. Hidupnya, seluruh jiwa raganya adalah Park Young Ah.

 

~XXX~

“Ngomong-omong, kau yakin tahu bagaimana caranya membuat anak laki-laki?” Yi Xing menautkan alis menatap Young Ah.

“Tentu saja aku tahu!”

“Tapi kurasa aku lebih tahu.” Yi Xing menyeringai.

“Hey hey, senyum apa itu Yi Xing-ah.” Young Ah merasakan Yi Xing mulai menyerangnya.

“Ayo kita buat anak laki-laki.”

“Mwoya!?”

“Bukankah kita telah resmi menjadi suami istri?”

“Kau menyebalkan!”

Yi Xing tersenyum bahagia. Ia segera menggendong Young Ah menuju kamar setelah acara resepsi pernikahan mereka. Ia mengecup puncak kepala gadis itu, kemudian berbisik, “Aku mencintaimu.”

“Aku lebih mencintaimu.”

Tidak ada yang mengatakan hidup itu mudah bukan, tetapi dengan perjuangan semua akan meraih apa yang diimpikan. Begitupula Lady unicorn, ia ingin membuat Unicorn miliknya terus hidup, dengan darahnya yang juga dapat menciptakan suatu keajaiban menuju keabadian. Itu yang dipikirkan Young Ah. Cita-cita Young Ah berikutnya, yaitu membuat Yi Xing, pria yang dicintainya, suami terkasihnya, terus bertahan hidup karena ada Young Ah yang selalu mendampingi pria itu.

-TAMAT-

1378690_209710625867097_101142950_n

Ini FF luar biasa yang kukerjakan hanya dalam waktu seharian. Karena ini bukan bidangku maaf kalau ada kesalahan, namun fakta di dalam FF tersebut berdasarkan penelitian/? jadi semoga bermanfaat. Dan kuharap reader sekalian menyukai FF ini dan berharap memberikan masukan yang membangun atas kerja keras author. Belum menjadi karya yang sempurna tanpa komentar, kritik, dan saran dari readers sekalian. Terima kasih bagi yang udah setia menunggu karya-karyaku. Aku mencintai kalian :) 

Tak kenal maka tak sayang, jadi rajin-rajinlah coment supaya aku akrab dengan kalian🙂 Kalian bisa sumbangkan ide, pendapat, kritik atau saran padaku. See you again in next fanfict ma beloved infiniti❤

46 responses »

  1. Aaaah… ini manis sekali >.< akhirnya berbuah manis :3
    Maaafkan saya Hae Oppa, hahaha😄
    *plaak!!
    Teruslah berkarya saengie… unn tunggu karya-karyamu yang lain🙂

  2. Komennya kepotong saengie T.T
    Tadi unn nulis panjang banget kenapa jadi cuma segitu?? -_-
    Intinya unn suka pake’ banget sama FFnya >.< perjuangan cinta mereka berdua berbuah manis :3
    Gomawo ya sayang ♥♥ ini FF yang sangat manis ^^

    • mungkin gegara tanda bacanya unn di wp kadang emang gitu .-. jadi berhati2lah/?
      iyaaaa perjalanan panjang itu unn… 8 tahun itu lama banget lho xD waks…
      iyaa unn happy birthday~ I love you :*

      • Iya kali ._. Jadinya cuma segitu doang yang masuk -_-
        8 tahun >.< dan mereka harus menunggu waktu selama itu utk bersatu🙂
        Love you too saengie~~ langgeng ya sama Kris, hehe😄 jaga dia krn dia semakin mempesona :p
        Btw, gak ada yg aneh kok sama FF ini. Manis yang ada, hehe😄

      • dulu saeng sering unn .-. hindari emot ( >.< ) ya,, pake aja 1 kali klo di comentan, soalnya itu kayak bahasa biner/?nya wp xD
        lama sekali.. tapi akhrnya perjuangan mereka unn :* kasian juga sih sama lay ge, dia mesti tersiksa dulu/? waks
        lebih kasian lagi donghae oppa *ampun haeppa*
        Aminn!! makasih doanya unn… iyaa saeng selalu sama Kris kok, dia cintaku xD
        syukurlah klo manis :3

  3. YUHUUUUUUUUUU~ aku datang~ :v
    bahasa penelitian, kepalaku pusing @.@ /dijitak/ tapi ga terlalu berat sih :3 lucu pas bagian tau teknik buat bikin anak cowo, yang bener aja -_-
    bagus seperti biasa, dan kali ini ga ada kesalahan kaya kemarin :3

    • halo halo say xD
      itu bahasa yg udah dibuat lebih mudah say hwahahaha aku suka pelajaran biologi bagian persilangan sih :v untung ga kupake homozigot sama heterozigot, itu pelajaran biologi yg selalu kuingat sampai saat ini, tambah mubeng/? pasti klo kumasukin :3
      lucu yah? makasih say…
      aku ada ilham kalau subuh2 ternyata, baru aku ngetik lancar jam itu. apa aku kurangi begadang dan bangun pagi aja kali ya O.o

    • itu dari toko di seberang rumah sakit chingu :v ahahaha
      skenario/? apapun kan bisa jadi/? kalau di dalam cerita fiksi *dihajar readers
      makasih ya udh mampir… btw, gimana kesan ffnya? .-.

  4. Waduh susah kali ini men-comment -,- , eh tapi ff nya seruu and asik , ntar rilis couple nya hunhwa sama hyeyeol yahh :3 *memohon*

  5. Ehh, melda mulai terserang kegaje’annya si assyifa nihh *hahahha* anak pertama nya ngga tau juga unn😀 *tunggu, anak sehun berapa sih* :3 haduh aneh aneh aja xD

  6. aaaaa~ ceritanya manis bgt
    aku suka unn /\^3^)
    tp ini kenapa susah banget mo komen T.T huweee~
    unnie mah gaperlu diraguin lagi kalo buat ff yg feelnya berasa bgt😀 aku mau lagi unn ~’-‘)~

  7. Aaaaa~ ceritanya manis banget
    aku suka unn😀
    besok2 yg versi baekkie oppa yeh unn *dijitak >.< haha
    susah bgt mo komen unn T.T huwee
    unnie mah udh jjang bgt kalo urusan bikin ff yg feel-nya berasa bgt '-')b
    aku mo lagi unn, aku tunggu ff yg lainnya yah '-')9 semangat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s