★ [K-Rin] Miracle in December ★

Standar

k-rin

Tittle : Miracle in December 

Cast :

>> Kris Wu

>> Shin Rin Rin

 

Author : Ririn Cross

 

Genre : Romance, Tragedy

 

Disclaimer : EXO belong to themselves, but this story original by me. Don’t copas anywhere!

Recomended Song : Miracle in December – EXO

 

Rated : T

 

Warning : Misstypo, Alur yang terlalu cepat, gaya penulisanku yang berubah-ubah

 

—————————————————-

 

Rintik salju mulai turun ketika seorang gadis tampak berdiri mengawasi sudut jalanan. Sangat lengang. Hanya beberapa pejalan kaki singgah untuk lewat. Penerangan hanya berasal dari dua lampu temaram di gerbang taman. Selebihnya gelap terselubung.

Ketika segumpal salju mulai terbentuk saat rintik-rintiknya bersatu. Gadis itu masih setia berdiri di sana. Tanpa suara dan hanya helaan nafasnya yang terdengar.  Gelisah ia melirik arloji kemudian menebar pandangan ke sudut taman.

Haruskah ia menyerah? Apakah dia tak lagi dapat melihatnya?

Gadis itu merapatkan mantelnya bahkan di saat salju semakin deras. Ia memilih duduk. Sedikit mata terpejam, lantas ia tersadar ketika mendengar suara langkah kaki. Irama yang beberapa hari ini akrab di telinganya.

“Kau masih di sini?” Suara berat pemuda itu menyambut.

“Seperti yang kau lihat.”

Pemuda itu duduk mensejajari sang gadis. Jarum jam mulai menunjukkan puncak pergantian hari. Gadis itu menunduk, segala pikiran berkecamuk di dalam dirinya. Namun, si pemuda nampak tenang. Tak ada suara diantara mereka.

“Aku ingin bersamamu.” Kata yang ditahan, perasaan yang secara tidak sadar hadir dalam diri gadis itu.

Pemuda itu mengerutkan alisnya tak mengerti. “Bisakah aku menjadi kekasihmu?” Gadis itu berucap lirih. Namun, si pemuda hanya diam membisu.

~XXX~

 

Aku tidak ingin kau sakit hati.

 

Baiklah, itu sebuah kalimat yang cukup tajam dan menusuk. Mata gadis itu masih berkaca-kaca mengingatnya. Sungguh hebat lelaki itu berhasil mengacaukan hidup si gadis hanya dengan sebuah kalimat.

“Seharusnya sejak awal aku tidak mengenalmu…” gumam sang gadis berusaha menghapus memori yang sangat menyedihkan dari hidupnya itu. Terkadang memang kita tidak bisa bersama dengan seseorang yang kita cintai, bukan? Itu hal yang wajar tentunya.

Sungguh lucu. Hanya dalam tiga hari saja gadis itu merasakan perasaan yang berbeda dengan pemuda itu. Dimulai ketika si pemuda mengulurkan sapu tangan untuknya dan mendengarnya menangis malam itu karena patah hati. Mengajaknya bicara melupakan apa yang pernah terjadi dan sedikit demi sedikit membuat gadis itu terhibur. Namun mengapa pemuda itu menorehkan luka yang sama padanya?

Tidak. Pemuda itu benar. Ia berkata bahwa tidak ingin menyakitinya. Jika kita merasakan sebuah perasaan yang berbeda, belum tentu orang lain mengalami hal yang sama, bukan?

“Lebih baik aku melupakannya.” Gadis itu memejamkan mata, mencoba menghapus sosok yang terus membayangi pikiran dan memporak-porandakan sudut hatinya.

~XXX~

 

Pemuda itu tertegun mendapati kursi taman itu kosong. Beberapa waktu berlalu dan ia sering kali mendengar ocehan gadis itu setiap malam. Rutinitas yang membuatnya terbiasa dan ia cukup nyaman dengan kehadiran si gadis. Senyum tulus yang ditujukan untuknya dan candaan yang membuat lelaki itu berpikir, aku tidak sedingin yang dibayangkan orang-orang.

Mungkin gadis itu terluka sangat dalam saat ini. Ia sama tidak pedulinya dengan seseorang yang membuat gadis itu menangis waktu pertama kali mereka bertemu.

“Lelaki macam apa aku ini.” Dia memaki dirinya sendiri. Keraguan itu yang ia rasakan ketika menghadapi gadis itu. Untuk itulah dia tidak bisa katakan apapun selain kalimat yang sebenarnya tampak kejam. Mungkin sudah terlambat menyesalinya. Atau dibutuhkan sebuah perjuangan untuk mendapatkannya kembali. Namun, berharap untuk dapat melihat senyum gadis itu pun ia sepertinya tak pantas. Lelaki itu duduk disana dan berharap sebuah keajaiban.

Cinta itu apa? Pemuda itu tidak mengerti. Ia hanya merasa nyaman dengan gadis itu, menyukai senyuman indah yang seolah diberikan hanya untuk dirinya, dan setiap ia melihat gadis itu menunggu ia berpikir, saat ini dia tidak sendirian.

Jika waktu bisa terulang, ia ingin mengatakan “ya” dan mendekap gadis itu erat dalam pelukannya. Jika waktu bisa terulang, ia tidak akan membiarkan setitik air mata jatuh dari manik indah gadis itu. Jika waktu dapat terulang ia berjanji  untuk membuatnya tersenyum dan merasa beruntung karena mempunyai penjaga hati sepertinya.

Pemuda itu kemudian menaruh sebuah kotak persegi kecil di pinggir bangku, tempat biasanya gadis itu duduk. Ini taman rahasia mereka berdua. Tak banyak orang tahu, dan lelaki itu berharap setidaknya gadis itu datang sekali lagi ke sisi taman ini untuk mengetahui apa yang ia rasakan.

~XXX~

 

Untuk terakhir kali gadis itu ingin mengunjungi tempat yang memberi kenyamanan baginya, dan tentu saja kenangan bersama pemuda itu. Ia sengaja keluar lebih lambat dari biasanya, setidaknya mereka tak akan bertemu jika pemuda itu datang. Ataukah pemuda itu tak akan pernah datang lagi setelah pengakuan darinya? Entahlah.

Langkah gadis itu terlihat lambat. Sehalus butiran salju yang mendarat di rambutnya. Tipis, dingin, dan rapuh. Semua tampak kelabu di matanya.

Sepi. Tak ada tanda kehidupan. Hanya putih salju dan dinginnya malam menyelubungi tempat ini. Ia menghela nafas lega.

Gadis itu kemudian melangkah menuju kursi tempat ia biasa menunggu. Masih seperti biasa, tidak ada yang istimewa kecuali sebuah kotak kecil yang sudah tertimbun derasnya salju.

“Apa itu?” Gumam sang gadis.

Ia singkirkan butiran salju dan mengambilnya. Sebuah kotak merah hazelnut dengan pita merah muda tampak lucu. Ini milik siapa? Gadis itu bergumam dalam hati. Ia buka perlahan. Sebuah benda kecil berbentuk lingkaran sederhana berwarna perak tampak cantik bertengger di dalamnya.

KRESEK

Belum lama gadis itu mengangumi benda yang baru ia temukan, gadis itu menajamkan pendengaran. Hari sudah lewat dini hari. Instingnya menyuruh untuk bersiaga. Bukan hantu atau binatang-binatang aneh yang ia takutkan, ia lebih takut pada makhluk jahat seperti lelaki hidung belang. Namun, sepengetahuan gadis itu tempat ini aman dan jauh dari hal-hal seperti itu. Selama insomnia ini menyerangnya ia tak pernah menemukan hal-hal ganjil di tempat ini. Ini tempat suci menurutnya yang dijauhkan dari sosok-sosok jahat seperti demikian.

“Shin Rin Rin…”

DEG

Gadis itu terlonjak saat mendengar seseorang memanggil namanya. Suara pemuda itu. Hatinya berdesir, seperti ada ribuan kupu-kupu yang ingin terbang di perutnya, dia terkejut. Membuat tangannya yang memegang kotak itu seketika melepaskan genggamannya, benda di dalamnya jatuh terpisah dan menggelinding ke salju.

“Ah, ne…?” Gadis itu tak tahu harus menghadapi pemuda itu dengan tingkah seperti apa. Semua terasa blank setelah sebuah insiden ‘penolakan’ menimpanya.

“Kau membuang kotak itu?”

“Hm??”

Mata pemuda itu mengarah ke ujung kaki gadis itu. Sang gadis mengikuti pandangannya. “Astaga!” pekiknya.

Gadis itu baru sadar melihat kotak itu berserakan di bawah. Ia buru-buru memungutnya. “Cincinnya dimana?”

Pemuda itu buru-buru menghampiri. Mereka berdua tampak sibuk menggali diantara tumpukan salju hingga ke semak-semak. Namun, setelah beberapa lama mereka mencari masih belum ditemukan juga.

“Jadi itu untukku?”

“Menurutmu?” Pemuda itu masih sibuk mengais salju tak peduli tangannya hampir membeku. Meskipun tidak begitu mahal, cincin itu susah payah ia beli dengan mengumpulkan keberanian. Hingga pelayan toko menggodanya, dengan berkata “ini untuk pacar Anda ya? Romantis sekali” dan pemuda itu hanya mengangguk malu, ia menahan malu untuk itu.

“Aku tidak yakin.”

“Jangan dicari lagi jika kau tak menginginkannya.” Pemuda itu lantas menghentikan penggalian. Ini terdengar seperti sebuah penolakan. Gadis itu membuang cincinnya entah sengaja atau tidak. Mungkinkah memang sudah tak ada harapan?

“Baiklah, aku akan mencarinya sendiri.”

“Bukankah kau membuangnya?”

Gadis itu mendecak. “Aku tidak pernah membuangnya. Kau membuatku terkejut, sehingga menjatuhkan benda itu.”

“Benarkah?”

“Aha! Ketemu!” Gadis itu tampak senang saat menemukan benda kecil berbentuk lingkaran bersembunyi di balik sebuah batu, di belakang kursi taman. Ia menepuk-nepukkan salju yang mengotori lututnya dan berjongkok menghadap pemuda itu. “Ini…” Ia mengulurkan pada sang pemuda. “Mau memasangkannya untukku?” Ia menyodorkan tangan lentiknya. Pemuda itu menatapnya lekat. Senyum menghiasi wajah gadis yang ia rindukan setelah beberapa waktu lalu ia mengukir kesedihan di dalamnya.

Perlahan ia sisipkan cincin itu di jemari sang gadis. Sangat pas dan benar-benar indah di tangannya. Sebelum gadis itu menarik jemarinya, pemuda itu menggenggam tangan si gadis begitu erat. Tangan gadis itu sedingin es, mungkin karena salju.  Mereka bertatapan cukup lama.

“Jadi, kau menerimaku?” Pemuda itu bertanya.

“Bukankah kau sudah tahu isi hatiku, Kris?”

“Sepertinya kau membenciku?”

“Aku membencimu.” Pemuda itu mendesah, namun gadis itu melanjutkan. “Tapi rasa sayangku mengalahkan rasa benci itu.” Pemuda bersurai emas itu menarik ujung bibirnya membentuk seulas senyum. Sangat tampan.

“Saranghae…” bisiknya. Namun, sang gadis hanya bisa tersenyum.
“Terima kasih. Tapi maaf..” Segera setelah itu gadis itu menarik tangannya dan menghilang di balik gerbang.

Selamat tinggal. Sayup-sayup Kris mendengar suara gadis itu dari kejauhan.

 

~XXX~

Kris kini tahu mengapa gadis itu hanya memberikan senyuman untuknya. Kris paham mengapa gadis itu tak bisa membalas ungkapan cintanya. Kris akhirnya mengerti  mengapa gadis itu hanya bisa mengatakan ‘terima kasih’. Kris larut dalam penyesalan, mengapa waktu benar-benar tidak bisa terulang, setidaknya Kris mempunyai waktu untuk memberikan jawaban yang tegas tentang perasaannya pada gadis itu. Namun, semua terlambat.

Kini Kris duduk di depan pusara merah gadis itu menyesali segala perbuatannya.

Malam itu, sebelum mereka bertemu, Shin Rin Rin menyempatkan diri untuk sekedar berpamitan dengannya. Setidaknya jika Kris lebih cepat menyatakan perasaannya Kris bisa menjaga gadis itu, mengawasinya, dan ia takkan biarkan gadis itu terluka sedikit saja oleh tangan-tangan lelaki hidung belang yang dengan keji dan tak manusiawi memaksanya. Rinrin menusuk dirinya sendiri dengan belati sebelum para lelaki itu berhasil menyentuhnya.

Satu-satunya keajaiban yang Kris ketahui yaitu sebelum benar-benar pergi gadis itu memberikan senyum termanis hanya untuk dirinya. Kris menghela nafas. Rinrin pergi dengan tenang setelah mengetahui perasaan Kris yang sesungguhnya. Kris tak yakin setelah ini hidupnya akan normal, tapi Kris yakin, Rinrin harus mendapatkan tempat terindah di dunia sana hingga saatnya nanti Kris akan menjemputnya. Pemuda itu tertunduk di kala kristal es turun membasahi bumi, mengubur kenangan mereka dalam timbunan salju. Namun, semua tentang Rinrin tersimpan rapi di dalam sudut hati Kris.

-Finish-

——————————————-

FF Tragis K-Rin ;-; Selamat membaca semoga suka yahh~ Kekeke

Doakan agar aku bisa melanjutkan karya-karya berikutnya.. Gomawo bagi readers yg masih setia dengan blog ini.. I Love you all :*

13 responses »

  1. AAhhh~ ini Romans bangt sebelum baca d end-ing, tp pas baca end-ing’a bikin pundung #pukpukKris😥

    aku rindu FF romans-mu dengan s ‘Tiang Listrik’ itu Eonnie!!😥 td’a sneng pas baca d awl krna ini Sad romans, eh pas baca end-ing’a _aku gx tau hrus blang apa lagi #HugKkamjong😥

    kau sukses membuat-ku merasa sesak Eonnie😥

  2. Tragis lagi kan T.T kenapa kau membuat hidup Rinrin setragis ini saengie?? K-Rin tdk bersatu dan sprtnya dia menyesal *pukpuk Kris* keren ceritanya saengie. Sprti biasa unn selalu suka FF buatanmu🙂 keep writing saengie ♥

  3. huaa😦 .. Sad ending.. Pdalahal aku baru nemu blog ini dan langsung jatuh cinta sama K-Rin, tp gpp over all.. This is good story :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s